Sabtu, 09 April 2011

DIMENSI TASAWUF DALAM ISLAM

DIMENSI TASAWUF DALAM ISLAM
Oleh : Nurul Hakim
Abstrak
Dalam konteks situasi masyarakat yang cenderung mengarah kepada dekadensi moral seperti gejala-gejalanya mulai nampak saat ini, dan akibat negatifnya mulai terasa dalam kehidupan, masalah tasawuf mulai mendapatkan perhatian dan dituntut peranannya untuk terlibat secara aktif sebagai solusi konkrit terhadap berbagai masalah di atas.
Melalui tasawuf seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri dari pengarug dekadensi moral tersebut. Tasawuf mengajarkan manusia untuk pandai mengendalikan dirinya saat berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas yang menuntut kejujuran, keikhlasan dan tanggung jawab.

Kata Kunci: dimensi, tasawuf, Islam

A.      Pendahuluan
Islam sebagai agama yang bersifat universal dan mencakup jawaban atas pertanyaan dari berbagai kebutuhan manusia, selain menghendaki kebersihan lahiriah juga menghendaki kebersihan batiniah, lantaran penilaian sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya. Kebersihan aspek batin itu lebih utama dari yang bersifat fisik atau lahiriah. Kebersihan batin akan menjadikan seseorang selalu merasa dekat dengan Tuhan. Rasa malu untuk berbuat jahat menjadi penghijab, karena ia merasa diperhatikan oleh Tuhan. Tasawuf adalah salah satu media yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Berbagai penyimpangan yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah bermula dari kekotoran batin manusia, yaitu jiwa yang jauh dari bimbingan Tuhan, yang disebabkan ia tidak pernah mencoba untuk mendekati-Nya.[1]
Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad saw pernah bertahannus di Gua Hira. Ada pendapat yang mengatakan bahwa tahannus yang  dilakukan Muhammad ibn Abdullah karena beliau tidak mampu melihat kenyataan yang terjadi pada masyarakat penyembah berhala di kota Mekkah.[2] Hal yang sama pernah terjadi pada Nabi Isa As. Ia merenungkan kegelapan yang terjadi pada kaumnya. Ia mendengar tuntunan dari Tuhannya.[3]
Tahannus yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw oleh sebahagian ulama memandang hal itu sebagai awal mula tasawuf dalam Islam. Prinsip Muhammad merupakan pola dasar dan deskripsi yang lengkap bagi para sufi dalam mengamalkan ajaran tasawuf.[4]
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek ruhani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak yang mulia. Pembersihan aspek ruhani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fikih, khususnya pada masalah thaharah yang memusatkan perhatian pada aspek pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya disebut sebagai dimensi eksoterik.
Keharusan hidup untuk mensucikan jiwa (akhlaq) yang bersumber dari ajaran agama dan berkehendak menaati seluruh perintah Allah berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. serta “menyifatkan dirinya dengan sifat-sifat Allah”, merupakan ciri dan perilaku kehidupan tasawuf. Meskipun perilaku seperti itu pada zaman Rasul tidak disebut tasawuf, karena istilah atau laqab (julukan) Sufi pada saat itu belum ada. Istilah ini baru muncul pada akhir abad dua atau awal abad tiga hijriyah. Ibn Taimiyah (661-728 H) menyatakan bahwa ahli agama, ahli ilmu dan ahli ibadah pada saat itu disebut kaum Salaf, yang kemudian disebut dengan “Shufiyah wa al-Fuqarâ”.[5]

B.       Definisi Tasawuf
Banyak definisi tasawuf yang diberikan para ahli tasawuf, tetapi tidak didapat sebuah definisi yang mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh.  Hal ini disebabkan para ahli tasawuf tidak memberikan definisi tasawuf sebagaimana ahli filsafat. Ahli tasawuf hanya mendeskripsikan tentang suatu keadaan yang dialaminya dalam kehidupan tasawuf pada waktu tertentu.
Harun Nasution mengemukakan bahwa mistisisme dalam Islam diberi nama tasawuf, dan oleh kaum Orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme istilah yang dipakai oleh Orientalis khusus untuk mistisisme Islam.[6]
Secara etimologi sufi mempunyai arti:
1.      Ahlu al-Suffah, orang yang sifatnya tidak mementingkan keduniawian, miskin tetapi berarti mulia, itulah sifat-sifat orang sufi.
2.      Saf pertama dalam salat.
3.      Safa dan Saffa yaitu suci.
4.      Sephos dalam bahasa Yunani yang berarti hikmah.
5.      Sufa, artinya kain yang dibuat, yaitu wol. Namun kain wol yang dipakai kaum sufi yaitu wol kasar.[7]

Menurut al-Kalabazi (w. 380 H atau 384 H) kata tasawuf diambil dari kata safa yang berarti bersih.[8] Menurut istilah nama sufi  berarti pada pria dan wanita yang telah menyucikan hatinya dengan mengingat nama Allah (zikrullah) menempuh jalan kembali kepada Allah dan sampai pada pengetahuan  Hakiki (ma’rifah).[9]
Menurut terminologi istilah tasawuf adalah pencapaian karakter mulia melalui penyucian hati.[10] Abu Husain al-Nuri (w. 295 H/907 M) mengatakan bahwa tasawuf bukanlah gerak lahiri (rasm) atau pengetahuan (‘ilm) tetapi ia adalah kebajikan (khuliq).[11] Menurut al-Junaidi al-Baghdadi (w. 297 H/ 909 M) mengatakan bahwa tasawuf adalah penyerahan dirimu kepada Allah dan bukan untuk tujuan yang lain.[12] Sahl ibn Abdullah al-Tustari (w. 283 H/897 M) mengatakan bahwa tasawuf adalah makan sedikit demi mencari damai dalam Allah dan menarik diri dari pergaulan ramai.[13]
Berdasarkan berbagai definisi di atas, menunjukkan keragaman arti tasawuf. Tidak ada satu pun kata sepakat para ahli tasawuf tentang definisi  tasawuf itu sendiri. Kalaupun ada kata sepakat hal itu hanya sebatas dari tujuan tasawuf.
 Imam al-Ghazzali (1058-1111 M) memberikan makna tasawuf dengan: “Ketulusan kepada Allah dan pergaulan yang baik kepada sesama manusia”. Setiap orang yang  tulus  kepada  Allah  dan membaguskan pergaulan dengan sesama  manusia menurut al-Ghazzali disebut sufi.[14]
Sedangkan ketulusan kepada Allah Swt. berarti menghilangkan kepentingan-kepentingan diri sendiri (hawa al-nafs) untuk melaksanakan perintah Allah dengan sepenuh hati. Sementara pergaulan yang baik dengan sesama manusia tidaklah mengutamakan kepentingannya di atas kepentingan orang lain, selama kepentingan mereka itu sesuai dengan syari’at. Sebab, setiap orang yang rela terhadap penyimpangan syari’at atau dia mengingkarinya, menurut al-Ghazzâlî, dia bukanlah sufi.
Jadi, sufi adalah orang yang menempuh jalan hidup dengan menjalankan syariat secara benar dan sekaligus mengambil spiritualitas (hakikat) dari ajaran syariat dalam bentuk penyucian dan pendekatan diri secara terus-menerus kepada Allah Swt. Perilaku ketaatan terhadap syariat itu kemudian diwujudkan dalam perilaku yang penuh moralitas (akhlak mulia) dalam kehidupan sehari-hari (tasawuf akhlaqi).

C.      Asal-usul Tasawuf
Berbagai penelitian yang dilakukan para ahli tentang asal-usul dan pengambilan tasawuf Islam, yang menganjurkan hidup keruhanian, sampai sekarang masih saja belum selesai. Ada beberapa asumsi mengenai latar belakang lahirnya tasawuf dalam Islam. Berbagai pendapat dikemukakan, setengahnya mengatakan bahwa sumber pengambilannya adalah semata-mata murni dari Islam, yaitu Alquran dan al-Hadis.[15]
Namun tidak sedikit orientalis Barat berpendapat bahwa masdar (sumber) tasawuf adalah dari ajaran Persia, atau Hindu atau agama Nasrani atau filsafat Yunani.[16] Pendapat lain mengatakan sumber tasawuf Islam adalah sari semuanya itu.[17]
Dalam ajaran Kristen ada paham menjauhi dunia atau hidup mengasingkan diri dalam biara. Dalam literatur Arab memang terdapat berbagai tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabia.[18] Lampu yang mereka nyalakan pada malam hari menjadi petunjuk jalan bagi kafilah yang melakukan perjalanan. Kemah mereka sederhana menjadi tempat berlindung bagi orang-orang yang kemalaman dalam perjalanan. Kemurahan hati mereka memudahkan para musafir mendapatkan makanan bagi mereka yang sedang kelaparan.[19] Asumsi itu menyatakan lebih jauh bahwa zahid dan sufi dalam Islam juga meninggalkan hidup duniawi  atau memilih hidup sederhana  dan mengasingkan diri adalah jelas pengaruh tata cara hidup para rahib Kristen tersebut.
R.A. Nicholson menjelaskan bahwa kecenderungan asketis (zuhud) dan senag kepada kesenyapan, memiliki kesesuaian dengan teori-teori Nasrani.[20] Banyak nas dalam Bibel dan juga kutipan dari perkataan Yesus, dapat ditemukan dalam karya-karya biografi sufi klasik. Hal itu juga tampak dari peranan para pendeta (rahib) Nasrani sebagai guru yang memberi petunjuk dan saran dalam kehidupan asketif sufi Islam. Seperti terlihat didalam memilih pakaian berbulu domba (suf) yang merupakan asal-usul kata sufi. Jadi kecenderungan pada kesenyapan, mengingat Allah (zikr) dan juga dalam berbagai kegiatan asketis lainnya, sebenarnya dapat ditelusuri dan ternyata menuju sumber asal yang sama.[21]
Namun argumen di atas sangat lemah dan goyah, mengingat bahwa cikal bakal tasawuf lahir di jazirah Arab dan dari bangsa Arab itu sendiri.[22] Keserupaan, kemiripan bukanlah suatu hal yang riil. Sebab tidak ada satu paradigma keilmuan yang memastikan, bahwa setiap yang sama atau yang mirip adalah karena terjadi saling memengaruhi atau karena plagiat.[23]
Mungkin ajaran Kristen punya pengaruh terhadap pertumbuhan tasawuf tetapi tetap bukan sebagai sumbernya, sebab landasan tasawuf itu sendiri justru bercorak Islam. Kalaupun ada pengaruh Kristen yang merembes ke dalam tasawuf, itu hanyalah sebagai bentuk budaya dari berbagai bangsa selama berabad-abad. Tapi kontak budaya itu membuat keliru sebagian orientalis, sehingga mengira bahwa ajaran sufi ditimba dari ajaran-ajaran Kristen.
Ajaran Phytagoras untuk meningglkan dunia dan pergi berkontemplasi, menurut pendapat sebagian orang, yang memengaruhi zuhud dan tasawuf dalam Islam.[24] Filsafat mistik Phytagoras mengatakan bahwa roh manusia bersifat kekal dan keberadaannya di dunia sebagai orang asing. Kesenangan roh itu ada di dalam samawi, sedang manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup duniawi yang materialis, dengan cara zuhud dan kontemplasi.
Disamping filsafat mistik Phytagoras di atas, pengaruh filsafat emanasi Plotinus juga dikatakan sebagai asal-usul tasawuf dalam Islam. Plotinus mengatakan bahwa semua pancaran berasal dari zat Tuhan. Roh itu menjadi kotor karena masuk ke alam materi (duniawi). Oleh karena itu untuk dapat kembali ke asalnya, roh harus dibersihkan. Pensucian roh itu adalah dengan meninggalkan kehidupan duniawi dan mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin, bisa “bersatu dengan Tuhan”.[25]
Tidak dapat dipungkiri banyak para sufi yang terpengaruh dengan filsafat Yunani seperti filsafat Plotinus. Walaupun demikian, sekalipun dampak filsafat Yunani umumnya dan Neo-Platonisme terhadap tasawuf itu ada, tetapi tidak dapat menunjukkan semua ajaran tasawuf yang ada hingga hari ini bersumber pada filsafat Yunani.
Hal itu karena para sufi punya sikap yang berbeda dengan sikap para teolog atau filsuf muslim. Para sufi tidak membuka diri bagi filsafat Yunani, kecuali pada periode mutakhir, [26] yaitu ketika mereka dengan sengaja mengkompromikan dengan wawasan intelektualnya sejak abad keenam hijriyah.
Pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf dalam Islam dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu. Sebenarnya pengaruh unsur Hindu itu hanya berupa penamaan-penamaan yang coba untuk dihubung-hubungkan. Misalnya ajaran Hindu dengan yoganya yang cenderung dikatakan merupakan sebagian rujukan ajaran tasawuf. Hal ini dikatakan oleh orientalis Barat seperti M. Horten dan R. Hartman.[27]
Namun pendapat itu terbantahkan dengan tidak adanya alasan yang mereka kemukakan, adakah pertalian bangsa Arab dengan bangsa Hindustan, baik sebelum Nabi Muhammad saw lahir atau sekian lama setelah Islam tersiar.[28] Hanya ada seorang sufi yang juga filsuf yaitu Abdul Haqq ibn Abi’in (w. 699 H), yang dalam sebuah risalahnya tentang zikr, yaitu al-Risalah al-Nuriyyah, dimana dia mengutip suatu bentuk pujian dari kalangan kaum Hindu.[29]
Fakta di atas menunjukkan bahwa pengaruh India baru muncul di kalangan sufi yang juga filsuf pada awal abad ketujuh hijriyah. Artinya bahwa pengaruh Hindu atau India itu baru terjadi setelang tiang-tiang penyangga tasawuf telah kuat dan berakar selama lebih dari enam abad sebelumnya.
Pendapat lain seperti yang diutarakan oleh Thoulk seorang orientalis abad ke-19 sebagaimana yang dikutip oleh Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani menganggap bahwa tasawuf ditimba dari sumber Majusi.[30] Alasannya adalah bahwa sejumlah besar orang-orang Mesir di Iran Utara, setelah penaklukan Islam, tetap memeluk agama mereka. Alasan lain ialah banyaknya tokoh sufi yang berasal dari sebelah utara kawasan Khurasan.
Orientalis lain yaitu Dozy penyusun buku Essai Sur L’Suisfoire de L’Islamisme, mengatakan bahwa sejak masa purba di Persia telah ada suatu gagasan yang menganggap bahwa asal-usul timbulnya segala sesuatu dari Tuhan, semesta itu tidak mempunyai wujud tersendiri, dan wujud sebenarnya hanyalah Tuhan.[31] Hal itu juga terdapat dalam tasawuf, khususnya yang beraliran wujudiyah. Bahkan Annemarie Schimmel mengatakan tasawuf sering dianggap sebagai perkembangan khas Persia dalam tubuh Islam.[32]
Pendapat lain juga mengatakan bahwa tasawuf itu berasal dari Persia, karena sebagian tokohnya berasal dari Persia, seperti Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H) dan Abu Yazid al-Bustami (w. 263 H). Pendapat ini juga tidak punya dasar yang kuat. Hal itu disebabkan perkembangan tasawuf tidak hanya sekedar upaya mereka saja, tetapi juga banyak para sufi Arab yang hidup di Mesir, Syria, di Afrika (Maroko), seperti al-Darani (w. 215 H), Zu al-Nun al-Misri (w. 245 H), Muhyiddin ibn Arabi (w. 638 H), bahkan sebagian mereka memberi dampak yang sangat besar terhadap perkembangan tasawuf di Persia.
Kemunculan al-Karkhi dan al-Bustami setelah zaman Nabi Muhammad saw dan merupakan angkatan pertama kaum asketik. Oleh karena itu kehidupan Rasulullah saw, sahabat dan angkatan pertama kaum asketik itu terhadap pembentukan cara-cara mendekatkan diri kepada Allahdi kalangan sufi di kemudian hari, punya dampak yang cukup besar, baik bagi yang berbangsa Arab maupun yang berbangsa Persia.
Pendapat yang paling sahih tentang asal mula tasawuf adalah dari agama Islam itu sendiri. Pada masa awal pembentukan disiplinnya, tasawuf merupakan moral keagamaan Alquran, al-Sunnah dan amalan serta ucapan para sahabat. Semuanya itu merupakan sumber pertamanya. Amalan dan ucapan para sahabat itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Alquran dan al-Sunnah.
Oleh karena itulah berdasarkan Alquran dan Sunnah, para sufi mendasarkan pendapat mereka tentang moral dan tingkah laku.[33] Semua tingkatan dan keadaan para sufi, yang pada dasarnya merupakan objek tasawuf, berlandaskan Alquran. Banyak ayat-ayat dalam Alquran yang menjadi landasan sebagian maqamat dan ahwal para sufi tersebut. Ayat tentang penggemblengan jiwa (mujahadah al-nafs) yang terdapat dalam QS. 29 (Al-Ankabut): 69 dan QS. 79 (al-Nazi’at): 40-41, yang berbicara mengenai taqwa antara lain QS. 49 (al-Hujurat): 13, QS. 2 (Ali Imran): 194, tentang maqam zuhud QS. 4 (al-Nisa): 77, QS. 57 (al-Hadid): 20, tentang maqam tawakkal, QS. 65 (al-Thalaq): 3, QS. 9 (al-Taubah): 51 dan lain-lain.
Selain Alquran, kehidupan, moral dan ucapan Rasulullah saw juga salah satu sumber tasawuf. Kehidupan Rasulullah saw yang pada setiap bulan Ramadhan tiba selalu menyendiri du Gua Hira, menghindari kemewahan dunia serta merenungi realitas umat yang ada, adalah cikal bakal kehidupan yang nantinya akan dihayati para asketis (sufi). Hal ini terjadi ketika beliau belum diangkat menjadi Rasul.
Setelah beliau menerima wahyu, kehidupan beliau makin penuh dengan makna-makna ruhaniah yang merupakan sumber kekayaan bagi para sufi. Rasulullah saw selalu mewajibkan dirinya tetap dalam keadaan sederhana, banyak beribadah dan salat tahajjud. Hadis dari ‘Aisyah tentang begitu lamanya beliau mengerjakan salat malam, menunjukkan betapa zuhud dan sufinya beliau.
Kehidupan dan ucapan para sahabat juga merupakan sumber tempat menimba fakta empiris para sufi setelahnya. Kehidupan mereka yang sederhana, ucapan-ucapan mereka penuh dengan hal-hal yang berkaitan dengan asketisisme dan penerimaan terhadap Allah.[34]
Kisah-kisah ibadah Abu Bakr al-Siddiq, doa-doanya, kesederhanaannya, ridanya, ketakutannya kepada Allah, kesalehannya, kerendahan hatinya, sifat dermawannya, yang kemudian menjadi sandaran para sufi. Demikian juga dengan Umar ibn al-Khattab yang sederhana penampilan beliau. Begitu juga dengan sahabat-sahabat yang lain, sehingga Rasulullah saw mencintai mereka, bahkan beliau suka sekali dengan mereka serta menganjurkan orang agar menghormati mereka.
Perkembangan tasawuf dalam Islam telah mengalami beberapa periode yang sangat krusial. Periode pertama disebut dengan fase asketisme yang tumbuh pada abad pertama dan kedua Hijriyah. Pada fase ini terdapat individu-individu muslim yang telah menekankan pentingnya beribadah. Mereka menjalankan konsepsi asketis dalam kehidupan, yaitu tidak mementingkan makanan, pakaian maupun tempat tinggal. Mereka lebih banyak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat. Diantara mereka adalah Hasan al-Basri (w. 110 H) dan Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185 H).
Pada periode kedua, tepatnya abad ketiga Hijriyah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku. Doktrin-doktrin dan dibarengi tingkah laku sufi berkembang dengan ditandai dengan moral yang sangat karakteristik, sehingga di tangan mereka tasawuf berkembang menjadi ilmu moral keagamaan.
Berbagai pembahasan tentang moral, akhirnya mendorong mereka mengkaji masalah serta hal-hal yang berkaitan dengan akhlak.[35] Hal itu merangsang mereka untuk mendiskusikan pengetahuan intuitif berikut sarana serta metodenya, dan diskusi tentang zat Ilahi dalam hubungan-Nya dengan manusia, atau hubungan manusia dengan-Nya, yang kemudian disusul dengan pembicaraan tentang fana, khususnya oleh Abu Yazid al-Bustami.[36] Dari perbincangan-perbincangan seperti inilah tumbuh pengetahuan sufi.
Pada abad ketiga Hijriyah ini pulalah munculnya jenis tasawuf lain, yang diwakili oleh al-Hallaj (w. 309 H), yang kemudian dihukum mati karena mengatakan pendapatnya mengenai hulul  pada 309 H.
Pada abad ketiga dan keempat Hijriyah, ada sejumlah tokoh sufi, seperti al-Junaid (w. 279 H), al-Sirri al-Saqathi (w. 253 H), al-Kharraz (w. 278 H), yang mempunyai banyak murid. Dari sinilah cikal bakal terbentuknya tariqat-tariqat sufi dalam Islam, dimana sang murid menempuh pelajaran dasarnya secara formal dalam suatu majelis. Dalam tariqat itulah mereka mempelajari tata tertib tasawuf baik ilmu maupun praktiknya.
Pada periode ketiga, Imam al-Ghazali (w. 505 H) muncul sebagai sufi pada abad kelima Hijriyah, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yang berdasarkan Alquran dan Sunnah serta bertujuan asketisisme, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Beliau mengkaji tasawuf dengan begitu dalam, disisi lain beliau membicarakan melancarkan kritik tajam terhadap para filsuf, kaum Mu’tazilah dan batiniah.[37]
Al-Ghazali-lah yang berhasil memancangkan prinsip-prinsip tasawuf yang moderat, yang serinf dengan aliran Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, dan bertentangan dengan jenis tasawuf  al-Hallaj (w.  309 H) dan Abu Yazid al-Bustami (w. 261 H) mengenai karakter manusia.
Periode ketiga yaitu abad keenam Hijriyah, tasawuf Sunni semakin besar pengaruhnya dalam dunia Islam. Hal ini sebagai akibat pengaruh kepribadian al-Ghazali yang begitu besar. Keadaan ini memberi peluang bagi munculnya para tokoh sufi yang mengembangkan tariqat-tariqat dalam rangka mendidik murid mereka, misalnya Sayyid Ahmad al-Rifa’i (w. 570 H) dan ‘Abd al-Qadir al-Jaylani (w. 651 H). Keduanya terpengaruh pada tasawuf al-Ghazali.
Sejak abad keenam inilah munculnya sekelompok tokoh sufi yang memadukan tasawuf dengan filsafat, dengan berbagai teori yang bersifat setengah-setengah,[38]artinya murni tasawuf bukan, dan murni filsafat juga bukan. Mereka itu antara lain al-Suhrawardi al-Maqtul (w. 549 H), penyusun kitab al-Isyraq, Ibn ‘Arabi (w. 638 H) penyair sufi Mesir, ‘Umar ibn al-Faridh (w. 632 H), ‘Abd al-Haqq Ibn Sab’in al-Mursi (w. 699 H). Mereka banyak menimba dari berbagai sumber dan pendapat asing, seperti filsafat Yunani, khususnya Neo Platonisme.[39] Teori-teori yang mereka sampaikan sangat mendalam terutama yang berkaitan dengan jiwa, moral, pengetahuan, wujud dan sangat baik bila ditinjau dari segi tasawuf maupun filsafat dan punya dampak besar bagi para sufi mutaakhkhir.
Akibat munculnya para sufi yang sekaligus filsuf ini, maka dalam Islam ada dua aliran tasawuf. Pertama tasawuf sunni[40], yang diwakili para tokoh sufi yang disebut al-Qusyairi (w. 465 H), dalam kitabnya al-Risalah, khususnya para sufi dari abad ketiga dan keempat Hijriyah, Imam al-Ghazali dan para pemimpin tariqat yang mengikuti jejaknya. Kedua tasawuf filosofis[41] diwakili para sufi yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat. Para fuqaha banyak mengecam para sufi yang juga filsuf, diantaranya yang paling keras adalah Ibn Taimiyah (w. 728 H).
Pada abad ketujuh Hijriyah muncul pula tokoh-tokoh sufi lainnya yang menempuh jalan yang sama. Tokoh sufi yang paling terkenal diantaranya Abu Hasan al-Syirazi (w. 656 H) dan muridnya Abu al-Abbas al-Mursi (w. 686) dan murid angkatan keduanya yaitu Ibn ‘Ata’illah Askandani (w. 709 H). Dalam tasawuf mereka inilah tokoh aliran Syaziliyah dan tasawuf mereka dipandang sebagai kesinambungan jenis tasawuf Sunni dari al-Ghazali.
Periode keempat yaitu tasawuf pada masa-masa akhir (kurang lebih dari abad kedelapan Hijriyah sampai saat ini)[42] yang mengalami kemunduran. Para tokohnya cenderung mengarah pada pemberian komentar dan ikhtisar atas karya-karya lama dan lebih menekankan pada berbagai bentuk ritual dan formalisme. Walaupun pada masa ini pengikut tasawuf masih cukup banyak, tapi tidak muncul  pribadi yang mencapai kedudukan ruhaniyah yang cukup terhormat, sebagaiamana sufi angkatan pertama.

D.      Tujuan Tasawuf
Tujuan terpenting dari tasawuf adalah bagaimana berada sedekat mungkin dengan Allah. Paling tidak ada tiga sasaran “antara” dari tasawuf bila dilihat dari karakteristik  tasawuf. Pertama pembinaan aspek moral, yang bertujuan mewujudkan kestabilan jiwa yang seimbang, penguasaan hawa nafsu serta pengendaliannya, sehingga manusia konsisten dan komitmen kepada sistem pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis, filosofis, pengkajian garis hubungan antara Tuhan dengan makhluk, terutama manusia dengan Tuhan serta apa arti dekat dengan Tuhan.[43]
Dapat dirumuskan bahwa tujuan akhir dari sufisme adalah etika murni atau psikologi murni:
a.       Penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak mutlak Tuhan, karena dialah penggerak utama dari semua kejadian di alam ini.
b.      Penanggalan secara total semua keinginan pribadi dan melepaskan diri dari sifat-sifat jelek yang berkenaan dengan kehidupan duniawi.
c.       Peniadaan kesadaran terhadap “diri sendiri” serta pemusatan pada perenungan terhadap Tuhan semata.[44]

E. Variasi Praktik Tasawuf dan Pengkajiannya
          Para sufi punya cara yang berbeda dalam mengimplementasikan hidup dan ajaran tasawufnya. Berbagai fakta empiris dalam mendekatkan diri kepada Allah menjadikan praktik tasawuf lebih kaya variasinya. Karena tujuan dari sufi itu ialah berada sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga tercapai persatuan, maka cara mencapai tujuan itu panjang dan berisi maqomat.[45] Maqomat  yang biasa disebutkan antara lain tobat, zuhud, sabar, tawakkal dan rida. Diatas itu ada lagi al-mahabbah (cinta), al-ma’rifah (pengetahuan), al-fana dan al-baqa (kehancuran dan kelanjutan), dan ittihad (persatuan).
Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185 H) adalah seorang yang banyak mengeluarkan rasa cinta pada Tuhan. Ia menerangkan “Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut masuk neraka atau bukan pula karena ingin masuk surga, tetapi karena cintaku kepada-Nya.[46] Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi jiwanya sehingga di dalamnya tidak ada lagi ruangan untuk cinta kepada yang lain, bahkan untuk rasa benci kepada setan pun tidak ada lagi.
Dalam kalangan sufi, Rabi’ah al-Adawiyah mengklasifikasikan cinta Ilahi ke dalam dua jenis, pertama yaitu yang disebutnya dengan “cinta rindu” yang didefinisikan cinta, karena hanya Kau kukenang selalu bukan selainMu”. Kedua, cinta yang disebutnya dengan “cinta karena Kau layak dicinta”, yaitu “karena Kau singkapkan tirai sampai Kau nyata bagiku”.[47]
Al-Mahabbah senantiasa didampingi oleh al-ma’rifah. Keduanya selalu disebut bersama. Al-Mahabbah menggambarkan rasa cinta dan al-ma’rifah mendeskripsikan keadaan mengetahui Tuhan dengan hati sanubari.
Faham al-mahabbah pertama kali dibawa oleh Zu al-Nun al-Misri (w. 214 H). Menurut Zu al-Nun al-Misri ma’rifah itu berbeda bagi setiap orang. Ma’rifah tentang keesaan Allah yang dimiliki orang awam didasarkan kepada taqlid, sedangkan ma’rifah para ulama bersumber kepada dalil dan burhan.[48] Ma’rifah  bagi ahli sufi atau wali-wali Allah bersumber kepada kasyf dan musyahadah. Menurut Zu al-Nun al-Misri, ma’rifah yang benar kepada Allah membawa sinar-Nya dalam hati hingga terang dan jelas, membuat orang selalu mendekatkan kepada Allah hingga menjadi fana dalam keesaan-Nya.
Dalam keadaan yang demikian, maka orang berbicara dengan ilmu yang diberikan-Nya, melihat dengan penglihatan-Nya, dan berbuat dengan perbuatan-Nya. Jadi ma’rifah itu ialah sesuatu yang halus yang terbit dalam hati terdalam, diberikan oleh Tuhan, terbuka hijab dan jelaslah penyaksian.






F.        Tokoh dan Karya Utama dalam Kajian Tasawuf
1.      Al-Ghazali
Namanya adalah Abu Haraid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad lahir pada tahun 450 H/1059 M di Thus daerah Khurasan. Beliau dikenal dengan al-Ghazali karena ayahnya bekerja sebagai pemintal tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Gelarnya adalah Ghuzzatul Islam. Beliau wafat pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 505 H. Karya-karya beliau mengenai tasawuf : Mizan al-‘Amal, al-Ma’arif al-‘Aqilah wa Lubab al-Hikmah al-Ilahiah, Ihya ‘Ulumuddin, Misykat al-Anwar, al-Munqiz min al-Dalal.[49]
2.      Suhrawardi al-Maqtul
Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Yahya bin Hafasy bin Amirek Suhrawardi yang digelar al-Maqtul, dilahirkan pada tahun 549 H/1153 M di Suhrawardi, sebuah desa dekat dengan kota Zanjan di utara Persia. Beliau meninggal dunia karena dihukum bunuh yang dilaksanakan oleh panglima al-Zahir atas perintah Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Pada tahun 587 H/ 1191 M dalam usia 38 tahun. Karya-karya beliau antara lain: al-Talwihat al-Muqawwamat, al-Hikmah al-Isyraq, al-Waridat al-Ilahiyah, al-Hayah al-Nur.[50]
3.      Hamka
Nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dilahirkan di Sungai Batang Maninjau pada 17 Februari 1908 atau 14 Muharram 1325 M. Beliau aktif berkecimpung dalam organisasi Muhammadiyah, juga aktivis dalam partai Masyumi.  Pada masa pemerintahan Soekarno, ia pernah dimasukkan ke dalam penjara. Beliau wafat pada tanggal 24 Juli 1981. Karya-karya beliau yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, Lembaga Budi, Lembaga Hikmah, Islam dan Kebatinan, Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya.

G.      Penutup
Berbagai asumsi diapungkan tentang asal-usul tasawuf. Ada yang berpendapat berasal dari ajaran Kristen, lalu pengaruh Persia, ada juga pengaruh Hindu dan ada pula yang mengatakan berasal dari filsafat Yunani. Melihat fakta itu, tasawuf dalam Islam dapat dikatakan tidak murni dari ajaran Islam, karena banyak pengaruh dari luar yang membuat tasawuf dalam Islam itu bercampur atau paling tidak terpengaruh dari sumber dan ajaran yang lain. Fakta lainnya adalah bahwa tasawuf sudah dikenal jauh sebelum ajaran Islam.
Hal itu diperkuat oleh adanya dua aliran dalam tasawuf yang terjadi pada abad keenam Hijriyah, yaitu aliran tasawuf Sunni dan tasawuf falsafi.

Daftar Pustaka

A.  Buku
             
Abuddin Nata. 1996. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. I.
al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Abu. 1997. Madkhal ila al-Tasawuf al-Islam, terjemahan Sufi dari Zaman ke Zaman, pent. Ahmad Rofi’ Usmani. Jakarta: Penerbit Pustaka, Cet. II.
Amir Ali, Syed. 1978. The Spirit of Islam. Terjemahan Api Islam. Pent. H.B. Yassin. Jakarta: Bulan Bintang.
Asmaran AS. 1996. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers. Cet. II.
Bakar bin Ishaq Muhammad nin Ibrahim bin Ya’qub al-Bukhari al-Kalabazi, Abu. 1969. Al-Ta’arruf li Mazhab Ahl al-Tasawwuf. Kairo: al-Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyya.Amstrong, Amatullah. 1996. Sufi Terminologi (al-Qamus al-Sufi) The Mystical Language of Islam,  terjemahan, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Pent. M.S. Nasrullah dan Ahmad Baiquni. Bandung: Penerbit Mizan, Cet. I.
Hamka. 1993. Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta: Pustaka Panjimas. Cet. XIX.
Harun Nasution. 1973. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
_______. 1986. Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Cet. VI.
M. Laily Mansur. 1996. Ajaran dan Teladan Para Sufi. Jakarta: Sri Gunting.
Moh. Saifullah al-Aziz Senali. 2000. Tasawuf dan Jalan Hidup Para Wali. Gresik: Pustaka Pelajar. Cet. I.
Muhammad Abd Haq Ansari. 1993. Antara Sufisme dan Syari’ah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nicholson, R.A, 1975. The Mystics of Islam. London: Routledge and Kegan Paul.
A.      Rivay Siregar. 1999. Tasawuf dan Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme. Jakarta: Rajawali Press.
Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. 1982. Pengantar Ilmu Tasawuf. Medan: Naspar Jaya.
Schimmel, Annemarie. 1986. Dimensi Mistik dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

B. Website

Masyitoh Chusnan, Meneropong Wajah Tasawuf  Dalam Muhammadiyah, www.fai.uhamka.ac.id., diakses tanggal 21 Agustus 2010.

Daftar Riwayat Hidup
     Nama                                 : Nurul Hakim, S.Ag., MA
     Tempat/Tanggal lahir         : Medan/6 Maret 1976
     Pendidikan formal             :
                                                SD. Muhammadiyah 08 Medan (1989)
                                                MTs Darul Irsyad Medan (1992)
                                                MAN 2 Medan (1995)
                                                Fak. Syari’ah IAIN SU Medan jurusan Ahwal al-                             Syakhsiyyah (2000)
                                                Pascasarjana IAIN SU Medan Program Studi                                    Hukum Islam (2003)
     Pekerjaan                           : Dosen Tetap fak. Hukum UMSU (2007-sekarang)




                [1] Abuddin Nata. 1996. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. I. hlm. 279.
                [2]Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (selanjutnya ditulis Proyek Pembinaan PTA IAIN-SU). 1982. Pengantar Ilmu Tasawuf. Medan: Naspar Jaya. hlm. 35.
                [3]Syed Amir Ali. 1978. The Spirit of Islam. Terjemahan Api Islam. Pent. H.B. Yassin. Jakarta: Bulan Bintang. hlm. 110.
                [4] Proyek Pembinaan PTA IAIN-SU. Op.Cit. hlm. 44.
                [5]Masyitoh Chusnan, Meneropong Wajah Tasawuf  Dalam Muhammadiyah, www.fai.uhamka.ac.id., diakses tanggal 21 Agustus 2010.
                [6]Harun Nasution. 1973. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. hlm. 56.
                [7]Ibid. hlm. 56-58.
                [8] Abu Bakar bin Ishaq Muhammad nin Ibrahim bin Ya’qub al-Bukhari al-Kalabazi. 1969. Al-Ta’arruf li Mazhab Ahl al-Tasawwuf. Kairo: al-Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyya. hlm. 28.
                [9]Amatullah Amstrong. 1996. Sufi Terminologi (al-Qamus al-Sufi) The Mystical Language of Islam,  terjemahan, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Pent. M.S. Nasrullah dan Ahmad Baiquni. Bandung: Penerbit Mizan, Cet. I. hlm. 262-263.
                [10]Ibid.  hlm. 289.
                [11]Muhammad Abd Haq Ansari. 1993. Antara Sufisme dan Syari’ah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. hlm. 36.
                [12] Ibid.
                [13]Ibid. hlm. 37.
                [14] Masyitoh Chusnan.  Loc.Cit.
                [15]Hamka. 1993. Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta: Pustaka Panjimas. Cet. XIX. hlm. 76.
                [16] Ibid.
                [17]Ibid.
                [18]Moh. Saifullah al-Aziz Senali. 2000. Tasawuf dan Jalan Hidup Para Wali. Gresik: Pustaka Pelajar. Cet. I. hlm. 21.
                [19]Asmaran AS. 1996. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers. Cet. II. hlm. 177.
                [20] R.A. Nicholson. 1975. The Mystics of Islam. London: Routledge and Kegan Paul. hlm. 110.
                [21]Ibid.
                [22]A. Rivay Siregar. 1999. Tasawuf dan Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme. Jakarta: Rajawali Press. hlm. 47.
                [23]Ibid.
                [24]Harun Nasution. Op.Cit., hlm. 58.
                [25]Moh. Saifullah al-Aziz Senali. Op.Cit. hlm. 22.
                [26]Asmaran AS. Op.Cit. hlm. 184.
                [27]Ibid.
                [28]Hamka. Op.Cit., hlm. 51.
                [29]Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani. 1997. Madkhal ila al-Tasawuf al-Islam, terjemahan Sufi dari Zaman ke Zaman, pent. Ahmad Rofi’ Usmani. Jakarta: Penerbit Pustaka, Cet. II, hlm. 29.
                [30]Ibid. hlm. 23.
                [31]Asmaran AS. Op.Cit., hal. 190.
                [32]Annemarie Schimmel. 1986. Dimensi Mistik dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus. hlm. 8.
                [33]Al-Taftazani. Op.Cit. hlm. 35.
                [34]Ibid.  hlm. 47.
                [35]Ibid. hlm. 17.
                [36]Ibid.
                [37] Ibid. hlm. 18.
                [38]Ibid.
                [39]Ibid.
                [40]Ibid.
                [41]Ibid.
                [42] Ibid. hlm. 20.
                [43] A. Rivay Siregar. Op.Cit. hlm. 57.
                [44] Ibid. hlm. 58.
                [45]Harun Nasution. 1986. Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Cet. VI, hlm. 78.
                [46]Ibid. hlm. 80-81.
                [47] Al-Taftazani. Op.Cit. hlm. 87.
                [48] M. Laily Mansur. 1996. Ajaran dan Teladan Para Sufi. Jakarta: Sri Gunting. hlm. 81.
                [49]Ibid.  hlm. 160.
                [50]Ibid.  hlm. 175.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar