Sabtu, 09 April 2011

TRANSMISI FILSAFAT YUNANI
KE DUNIA ISLAM
A. Pendahuluan
            Transmisi filsafat Yunani ke dunia Islam memberikan kontribusi yang sangat esensial bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran di kalangan kaum muslimin. Pembahasan tentang permasalahan keislaman tidak hanya ditinjau dari konteks nash semata, namun telah mengacu pada penggunaan pikiran yang lebih sistematis, sehingga ajaran Islam dapat diterima dari sudut keilmuan. Selain itu transmisi filsafat Yunani ke dunia Islam dijadikan sebagai jembatan penghubung antara pemikiran Eropa dan Islam.

B. Filsafat Yunani sebelum Islam
Filsafat Yunani sebelum Islam mengalami dua fase perkembangan yaitu:
  1. Fase Helenisme
  2. Fase Helenisme Romawi (Helenistis).[1]
Yang dimaksud dengan ajaran Helenisme adalah ajaran yang hanya dimiliki oleh orang Yunani yaitu sejak abad ke VI atau sampai akhir abad IV SM. Diantara aliran-aliran yang berkembang pada masa ini yaitu:
  1. Aliran Tabi’ (Natural Philosophy) dengan Demokritus sebagai tokohnya.
  2. Aliran Ketuhanan yang diwakili oleh aliran Elea dan Soctates
  3. Aliran Mistis dan Matematis dengan Phytagoras sebagai tokohnya
  4. Aliran Parepatik yang menekankan pada aspek epistemologi, etika, aksiologi dan kemanusiaan. Aliran ini diwakili oleh Socrates, Plato dan Aristoteles.[2]
Fase Helenisme Romawi yaitu zaman setelah Aristoteles (322 SM) dimulai dengan pemerintahan Alexander Agung (356 – 326 SM). Pada fase ini filsafat Yunani tidak hanya berkembang di Yunani dan oleh orang Yunani sendiri, tetapi telah meluas sebagai warisan Yunani, yang dikembangkan oleh orang-orang Romawi, Persia, Mesir.
Helenisme Romawi dapat dibedakan pada tiga masa perkembangan yaitu:
1.      Masa pertama yaitu abad V sampai dengan abad 1 SM. Pada masa ini dikenal beberapa aliran yaitu:
a)       Aliran Epicure dengan tokohnya Epicurus
b)      Aliran Ston dengan tokohnya Zeno
c)       Aliran Skeptis yang meliputi aliran Phyro
2.      Masa Kedua yaitu dari pertengahan abad I SM hingga pertengahan abad III M. Aliran pada masa ini adalah:
a)                 Aliran Parepatik
b)                aAiran Stoa Baru
c)                 Aliran Epicure Baru
d)                Aliran Phytagoras
3.      Masa Ketiga yaitu dari abad ke III M sampai dengan pertengahan abad VI M di Romawi Barat hingga abad VII di Byzantium. Aliran pada masa ini adalah:
a)      Aliran Neo Platonisme
b)      Aliran Iskandariyah
c)      Aliran filsafat di Asia Kecil.[3]

Yang tiga ini merupakan kegiatan terakhir menjelang timbulnya filsafat Islam. Diantara aliran-aliran tersebut yang paling dominan memengaruhi filsafat Islam adalah aliran Neo Platonisme.
C. Perkenalan Islam terhadap Filsafat Yunani
            Alexander Agung mengalahkan kerajaan Persia yang dipimpin oleh Darius pada tahun 311 SM. Penguasaan Alexander atas Persia tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, namun sebaliknya berusaha untuk menyatukan kebudayaan Persia dan Yunani. Setelah Alexander wafat, kerajaan Yunani terpecah menjadi kerajan-kerajaan kecil yaitu Macedonia di Eropa, kerajaan Ptolomeus di Mesir dengan Alexandria sebagai ibu kotanya dan kerajaan Seleucus di Asia dengan kota-kota penting seperti Antioch di Siria, Seleucia di Mesopotamia dan Bactra di Persi. Pada abad VII Masehi perluasan wilayah Islam berlangsung secara drastis memasuki Mesir, Syiria, Mesopotamia (Irak), dan Persia (Iran). Pada masa perluasan inilah dimulai kontak antara Islam dan Filsafat Yunani, karena filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani telah masuk pada daerah-daerah tersebut bersamaan dengan penaklukan yang dilakukan oleh Alexander Agung mulai dari daerah kawasan Asia dan Afrika Utara. Antioch dan Bactra menjadi pusat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Di abad III Masehi  kota-kota pusat ilmu pengetahuan dan filsafat bertambah diantaranya kota Jundishapur, yang letaknya dekat dengan Baghdad.[4]
            Pada awal perkembangan Islam, sebenarnya kaum muslimin tidak bermaksud untuk mengikuti pemikiran Yunani, kalaupun kemudian ada sebagian ilmu tersebut yang tertransmisi ke dalam Islam, semata-mata keharusan yang tidak dapat dihindari karena semakian eratnya pergaulan antara Islam dengan bangsa-bangsa disekitarnya dalam ruang lingkup yang sempit. Hubungan itu telah ada sejak masa zaman Jahiliyah. Namun pemikiran yang diperoleh kaum muslimin saat itu belum menguasai semua cabang kelilmuan secara ilmiah. Untuk memperdalamnya dibutuhkan bahasa Suryani yang tersebut di Jundishapur. Jundisaphur merupakan penghubung antara filsafat Yunani dan Arab, karena kota Baghdad dijadikan sebagai ibu kota kekhalifahan Abbasiyah dan letaknya jauh dari Jundishapur, maka posisi Jundishapur sebagai pusat ilmu pengetahuan dan filsafat beralih ke Baghdad.[5]
            Menurut Oliver Leaman, pemikiran filsafat dikalangan Islam, pertama kali muncul pada abad ke 3 Hijriyah (8 Masehi) di bawah pemerintahan Abbasiyah. Abbasiyah memiliki kekuatan yang terkonsolidasi atas bantuan golongan Syi’ah Persia yakni Mawalli yang telah memiliki kebudayaan tinggi. Sejak pemerintahan Umayyah, wilayah kerajaan mencakup seluruh daerah yang pemikiran Yunani tersebar luas dengan pengecualian Eropa, yang pada saat itu berada pada kekuasaan Byzantium. Dibawah pemerintahan Abbasiyah, tidak hanya Syiria dan Mesir yang masuk ke dalam wilayah kekuasaannya, tetapi juga Persia dan seluruh wilayah yang sepanjang sejarahnya sudah berada di bawah pengaruh kebudayaan dan kelimuan Yunani.[6]



D. Kontroversi antara Filsafat Islam dan Filsafat Arab
            Menurut Oemar Husein bahwa  perkataan filsafat bukan bahasa Arab. Orang Arab tidak mengenal filsafat meskipun mereka memiliki hikmah dan hukama (kebijaksanaan dan kebijaksanawan).[7] Secara etimologis  kata filsafat dan filsuf berasal dari bahasa Yunani “Philosophia dan philosophos”. Seorang philosophos adalah orang pecinta kebijaksanaan, ada tradisi kuno yang mengatakan bahwa nama filsuf (philosophos) pertama kalinya digunakan oleh Phytagoras pada abad ke 6 SM.[8] Filsafat menurut R. Beerling adalah pemikiran-pemikiran yang bebas, diilhami oleh rasio mengenai segala sesuatu yang timbul dari pengalaman.[9]
            Sedangkan filsafat Islam menurut Ahmad Fuad al-Ahwani merupakan pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan berbagai macam masalah manusia atas dasar ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.[10]
            Dalam pembahasan filsafat Islam terdapat kontroversi dalam penamaan disiplin ilmu ini. Sebahagian pendapat menyatakan sebagai filsafat Islam dan sebagian lainnya menyatakan sebagai filsafat Arab. Yang memberi nama filsfat Arab pada pokonya mengajukan alasan:
  1. Predikat Arab diberikan kepada ilmu ini karena bahasa yang dipergunakan dalam pengungkapannya adalah bahasa Arab. Maurice de Wulf sebagai pendukung pendapat ini menyatakan bahwa istilah Islam tidak relevan menjadi ciri ilmu ini, karena penamaan dengan filsafat Islam berarti mengharuskan orang menelaah buku-buku selain berbahasa Arab seperti misalnya bahasa Urdu, dan Persia. Sedangkan karya yang diteliti tersebut bertuliskan bahasa Arab, tanpa memperhatikan agama penulisnya.
  2. Dengan memberikan penamaan Islam pada ilmu ini, berarti menghilangkan sejumlah tokoh pemikir dan penerjemah yang bukan beragama Islam, yang tidak sedikit jasanya dalam membangun dan mengembangkan disiplin ilmu ini, tetapi masih dalam rumpun bahasa Arab, seperti agama Nasrani, Yahudi dan sebagainya.
  3. Sejarah Arab lebih tua daripada sejarah Islam. Islam lahir dikalangan bangsa Arab, disebarluaskan oleh bangsa Arab, maka seluruh kebudayaan yang berada dibawah pengaruh sejarah bangsa ini haruslah diberikan predikat Arab, termasuk filsafatnya.[11]

Sedangkan alasan penamaan disiplin ilmu ini dengan filsafat Islam adalah:
1.       Para filsuf yang tercatat memberikan sumbangan pengetahuannya kepada perkembangan ilmu ini sendiri menamakannya dengan filsafat Islam filsuf tersebut antara lain al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Rusyd.
2.       Bahwa Islam bukan sekedar nama agama tetapi juga mengandung unsur kebudayaan dan peradaban. Sejak lahirnya, Islam telah merupakan kekuatan politik yang telah berhasil menyatukan berbagai suku bangsa menjadi satu umat dalam kekhalifahan Islam. Memberikan predikat Arab berarti harus dikeluarkan para filsuf yang bukan bangsa Arab, padahal jumlah mereka lebih banyak antara lain Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibn Khaldun. Jadi dengan predikat Islam akan lebih umum dibanding Arab, sehingga keseluruhan tokoh-tokoh dimaksud tercakup didalamnya.
3.       Filsafat Islam tidak mungkin terbina tanpa Daulah Islamiyah dan persoalan yang dibahas juga persoalan agama Islam, maka adalah tepat menamakannya filsafat Islam.[12]

Diantara penulis-penulis yang menamakan filsfat Arab ialah Maurice de Wulf dalam bukunya Histoire De La Philosophie Medieval, dan Emile Breiher dalam bukunya Histoire De La Philosophie. Sedangkan yang penulis-penulis yang mempergunakan nama filsafat Islam yaitu Max Horten dalam bukunya Encyclopedia Islam, De Boer dalam bukunya The History of Philosophy, dan Gautier dalam bukunya Introduction A’l’etudeDe La Philosophie Musulmane.
E. Penerjemahan Karya-karya Filsuf Yunani
            Sebab-sebab diadakannya penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab yaitu:
  1. Banyak perdebatan mengenai soal-soal agama yang terjadi antara kaum muslimin dengan orang-orang  Yahudi dan Masehi. Untuk menghadapi perdebatan tersebut mereka memerlukan filsafat Yunani agar dalil-dalil dan pengurutan ulasan bisa disusun dengan baik, sehingga mengimbangi lawannya yang terkenal memakai ilmu-limu Yunani.
  2. Banyaknya kepercayaan dan dan pikiran-pikiran Iran (Persia) yang masuk pada kaum muslimin. Orang Iran dalam menguatkan kepercayaan memakai ilmu berpikir yang didasarkan oleh filsafat Yunani.[13]

Kegiatan penterjemahan buku-buku, berjalan melalui tiga  periode, yaitu:
1. Periode pertama, terjadi pada masa khalifah al-Mansur sampai dengan penghujung masa kekhalifahan Harun al-Rasyid pada abad 8 Masehi. Penterjemah yang termashur di zamannya ialah Ibn al –Muqaffa, Jarjis bin Jabril, Yuhana bin Masaweah dan lain-lain. Pada masa Harun al-Rasyid, khalifah mengumpulkan penerjemah untuk menterjemahkan berbagai ilmu pengetahuan. Bahkan khalifah telah membentuk suatu tim untuk mengumpulkan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani dan menerjemahkannya ke bahasa Arab.
2. Periode kedua, terjadi pada masa Khalifah al-Makmun bin Harun al-Rasyid. Al-Makmun mendirikan institut untuk para penerjemah, yang disebut Baitul Hikmah di Baghdad. Fungsi institut itu adalah untuk mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari Yunani dan Suryani ke dalam bahasa Arab. Sebagai pimpinan institusi tersebut, diangkat Hunaya bin Ishak terjemahannya Galen (Jalinus ath-Thabib). Ishak bin Hunaya menerjemahkan buku-buku Hipocrates.[14] Sebab penerjemahan buku filsafat Yunani adalah karena kecenderungan al-Makmun pada ilmu, yaitu:
a.       Kecenderungan al-Makmun kepada pemikiran aliran Mu’tazilah yang mendorongnya untuk menguatkan dan membela pendirian mereka dalam persoalan Alquran dengan alasan-alasan pikiran.
b.       Karena persoalan tentang Alquran sebagai Kalimatullah menyangkut tentang sifat-sifat Tuhan, sehingga timbul asumsi pada diri al-Makmun bahwa dalam filsafat Yunani ada hal-hal yang memberikan kekuatan berhujjah dalam menghadapi lawannya karena filsafat Ketuhanan Yunani juga membicarakan tentang sifat-sifat Tuhan.
c.       Kecenderungan al-Makmun terhadap kebebasan berpikir dan i’tikadnya yang baik terhadap para filsuf, yaitu sebagai manusia pilihan, yang harus diambil hasil pemikirannya.
3. Periode Ketiga ialah periode zaman terakhir, zaman penerjemahan besar-besaran ke dalam dunia Islam, terjadi sekitar abad 10 M. Penerjemah yang termashur pada masa ini adalah Abu Bisrt Matta bin Yunus al-Qanani (940 M), Yahya bin Adl al-Mantiq (974 M).[15]

Keberhasilan transimisi filsafat Yunani ke dunia Islam tidak hanya semata-mata karena penerjemahan buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani tetapi juga penempaan akal dalam lebaga pendidikan, yang berupa:
1.      Masjid
2.      Universitas
3.      Perpustakaan.[16]
Melalui penerjemahan buku-buku filsafat Yunani dan pendirian berbagai institusi yang memediasinya, maka dalam jangka waktu yang relatif singkat kaum muslim telah menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Namun sangat disayangkan bahwa filsafat Islam, setelah abad ke VI H, diduga oleh sementara orang lebih bersifat pengulangan masalah yang sama tanpa diperkuat dengan dasar dan temuan keilmuan, terutama ilmu pasti dan ilmu alam, sehingga terputus hubungan antara filsafat dan sains. Akibatnya filsafat menjadi kaku. Namun pada saat dirasakan bukan antara filsafat dengan sains tetapi antara filsafat dan agama. Inilah salah satu penyebab yang menjadikan filsafat Islam berubah menjadi filsafat yang gersang, yang akhirnya tinggal agama tanpa disertai oleh filsafat.[17]

F. Pengaruh Filsafat di Dunia Islam pada Peradaban Barat
            Peradaban umat Islam dibidang ilmu pengetahuan dan filsafat memberikan peranan yang sangat signifikan bagi kemajuan peradaban dan kebudayaan Barat. Berbagai bidang keilmuan yang tidak dikenal sebelumnya banyak dipresentasikan umat Islam ke dunia Barat. Dunia Barat memulai kontak dengan peradaban umat Islam pada saat wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam telah meluas sampai ke Andalusia, yang selanjutnya diperluas sampai ke berbagai negara di Eropa seperti Yugoslavia dan lainnya. Pemikiran dunia Barat  banyak dipengaruhi oleh pemikiran dari Ibn Rusyd. Peranan peradaban Islam di bidang ilmu pengetahuan dan filsafat bagi kemajuan Barat, telah diakui oleh para ilmuan dan orientalis. Shaade seperti  yang dikutip oleh Anwar Jundi mengatakan bahwa seandainya kaum muslimin dan Arab tidak muncul dalam gelanggang sejarah, niscaya akan terlambatlah kebangkitan peradaban Eropa beberapa abad dan perlu dicatat pula bahwa sampai akhir abad ke 18 karya-karya Ibn Sina masih diperbincangkan di universitas Paris.[18]
            Bernard Lewis mengemukanan bahwa Eropa mempunyai  beban hutang kepada kaum muslim dan Arab, mereka telah memelihara warisan pemikiran ilmiah dengan mempergunakan akal yang telah ditinggalkan oleh peradaban Yunani dan kaum muslim telah memperluas ilmu ini dan dari kaum muslim dan Arab, Eropa belajar cara baru dalam riset ilmiah dengan mempergunakan akal menjadi syarat utama kemudian melanjutkannya denga pembahasan yang mandiri dan percobaan eksperimen.[19]

G. Penutup
            Kontak Islam dengan filsafat Yunani dimulai pada saat kekhalifahan Islam melakukan invasi ke daerah-daerah yang menjadi sumber filsafat Yunani. Manifestasi dari transmisi filsafat Yunani pada Islam dapat dilihat melalui penerjemahan yang telah dilakukan dan pendirian lembaga-lembaga yang mengkaji filsafat Yunani. Eksistensi filsafat Yunani diterima di kalangan Islam karena filsafat dan pengetahuan Yunani sangat dibutuhkan dalam kehidupan dan kemajuan peradaban Islam.
            Guna mereduksi filsafat Yunani ke dalam Islam, maka harus diperlukan pemaduan antara filsafat dan agama. Filsafat Islam sendiri sangat berkaitan erat dengan ilmu keislaman lainnya. Pada akhirnya Islam dengan kemajuan peradabannya mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjembatani antara peradaban Yunani dengan kemajuan peradaban.




DAFTAR PUSTAKA

Fuad al-Ahwani, Ahmad 1991, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, Jakarta.

Ahmad Hanafi, 1991, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta.

Jundi, Anwar, 1991, Kerancuan-Kerancuan Dalam Pemikiran Islam, terjemahan Toha Anwar, Kalam Mulia, Jakarta, 1991.

Gerard Beekman, 1984, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Erlangga, Jakarta.

Hamzah Ya’qub, 1989, Filsafat Ketuhanan, AlMa’arif, Jakarta.

Harun Nasution, 1995, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, Cet. Ke-9.

Hasyimsyah Nasution, 1998, Filsafat Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta.

K. Bertens, 1995, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Jakarta.

Oliver Leaman, 1989, Pengantar Filsafat, Rajawali Press, Jakarta.

Yunasril Ali, 1994, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bumi Aksara, Jakarta.


[1]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1991, hal. 27.
[2]Ibid., hal. 28.
[3]K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Jakarta, 1995, hal. 45.
[4]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, Cet. Ke-9, 1995, hal. 10.
[5]Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991, hal. 35.
[6]Oliver Leaman, Pengantar Filsafat, Rajawali Press, Jakarta, 1989, hal. 5.
[7]Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan, AlMa’arif, Jakarta, 1989, hal. 14.
[8]K. Bertens, Loc.Cit.
[9]Gerard Beekman, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Erlangga, Jakarta, 1984, hal. 76.
[10]Ahmad Fuad al-Ahwani, Op.Cit., hal. 7.
[11]Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1998, hal. 3.
[12]Ibid.
[13]Ahmad Hanafi, Op.Cit., hal. 42.
[14]Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1994, hal. 10.
[15]Ahmad Hanafi, Loc.Cit.
[16]Yunasril Ali, Op.Cit., hal. 11.
[17]Ahmad Fuad al-Ahwani, Loc.Cit.
[18]Anwar Jundi, Kerancuan-Kerancuan Dalam Pemikiran Islam, terjemahan Toha Anwar, Kalam Mulia, Jakarta, 1991, hal. 10.
[19]Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar